Indonesia Jangan Mengulangi Kesalahan Iran: Belajar dari Mohammad Mossadegh dan Perjuangan Kemandirian Nasional.

Jum’at 22 mei 2026|vibrasinews.com

 

Ditulis oleh Chris Komari
Chairman FDI, Activist for Democracy, Activist for Humanity
……
Pada tahun 1953, dunia menyaksikan salah satu operasi intelijen paling terkenal dalam sejarah modern, yaitu penggulingan Perdana Menteri Iran, Mohammad Mosaddegh. Ia adalah pemimpin yang dipilih secara demokratis oleh rakyat Iran.

Namun pemerintahannya dijatuhkan melalui operasi rahasia yang melibatkan Central Intelligence Agency dan MI6 karena kebijakannya dianggap mengancam kepentingan ekonomi Barat, terutama terkait nasionalisasi industri minyak Iran.

Sejarah ini menjadi pelajaran besar bagi bangsa-bangsa berkembang, termasuk Indonesia.

Ketika suatu negara mulai berbicara tentang kemandirian ekonomi, penguasaan sumber daya alam, ketahanan energi, dan pengurangan ketergantungan terhadap asing, sering kali muncul berbagai propaganda, tekanan media internasional, perang opini, hingga upaya pelemahan politik dari luar negeri.

A). Mohammad Mossadegh dan Nasionalisasi Minyak Iran.

Saat menjadi Perdana Menteri Iran pada awal 1950-an, Mohammad Mossadegh mengambil langkah berani: menasionalisasi industri minyak Iran yang saat itu didominasi perusahaan Inggris, yaitu Anglo-Iranian Oil Company, yang kemudian menjadi BP.

Bagi Mossadegh, minyak adalah kekayaan rakyat Iran, bukan alat eksploitasi asing. Ia percaya bahwa hasil minyak harus digunakan untuk membangun ekonomi nasional, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperkuat kedaulatan negara.

Namun kebijakan tersebut dianggap mengancam kepentingan geopolitik dan ekonomi Barat. Akibatnya, dilakukan operasi propaganda besar-besaran untuk menggambarkan Mossadegh sebagai ancaman stabilitas, anti-Barat, dan berbahaya bagi dunia internasional. Pada akhirnya, kudeta terjadi pada tahun 1953 dan pemerintah demokratis Iran dijatuhkan.

Peristiwa ini dikenal sebagai 1953 Iranian coup d’état.

Kemiripan dengan Semangat Kemandirian Nasional Indonesia

Saat ini, Presiden Prabowo Subianto membawa berbagai kebijakan yang menekankan pentingnya:

Kemandirian pangan

Kemandirian energi

Hilirisasi industri nasional

Penguatan BUMN strategis

Penguasaan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat

Ketahanan air bersih

Pengurangan ketergantungan impor

Penguatan industri nasional dan pertahanan nasional

Dalam konteks geopolitik global, kebijakan seperti ini sering tidak disukai oleh kekuatan ekonomi internasional yang selama puluhan tahun menikmati dominasi terhadap pasar dan sumber daya negara berkembang.

Karena itu, rakyat Indonesia perlu memahami bahwa tidak semua kritik asing murni demi demokrasi atau hak asasi manusia.

Dalam sejarah dunia, isu demokrasi dan kebebasan sering juga digunakan sebagai instrumen geopolitik untuk menekan negara-negara yang ingin mandiri secara ekonomi.

B). Propaganda Modern Tidak Selalu Menggunakan Senjata.

Di era modern, perang tidak selalu dilakukan dengan tank dan bom. Propaganda media, perang opini, manipulasi informasi, tekanan ekonomi, dan pembentukan persepsi publik menjadi senjata yang sangat efektif.

Cara-cara yang sering digunakan antara lain:

1. Membentuk opini bahwa kebijakan nasionalis akan menghancurkan ekonomi.

2. Menggambarkan pemimpin nasionalis sebagai ancaman demokrasi.

3. Membuat ketakutan terhadap investasi asing keluar dari negara.

4. Menyebarkan pesimisme terhadap kemampuan bangsa sendiri.

5. Menggunakan media internasional untuk mempengaruhi elite lokal dan kelas menengah.

6. Membenturkan rakyat dengan pemerintah melalui isu ekonomi jangka pendek.

Padahal dalam banyak kasus, negara-negara maju justru sangat protektif terhadap kepentingan nasional mereka sendiri.

C). Negara Maju Pun Sangat Nasionalis.

Amerika Serikat melindungi industri strategisnya. China mengontrol ketat sektor energi dan teknologi. Rusia menjaga sumber daya alamnya di bawah kendali negara. Negara-negara Teluk menguasai penuh minyak mereka melalui perusahaan nasional.

Karena itu, tidak logis bila Indonesia justru didorong untuk menyerahkan sektor-sektor strategis sepenuhnya kepada kepentingan asing tanpa kontrol nasional yang kuat.

Pasal 33 UUD 1945 sendiri menegaskan bahwa cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara demi kemakmuran rakyat.

D). Rakyat Indonesia Harus Kritis dan Dewasa, khususnya para anggota dan aktivis Forum Diaspora Indonesia (FDI).

Belajar dari Iran, Indonesia harus memahami bahwa perjuangan kemandirian ekonomi selalu menghadapi tekanan besar. Namun rakyat juga harus tetap kritis dan objektif.

Nasionalisme ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau anti kritik.

Yang diperlukan adalah keseimbangan:

Mendukung kedaulatan nasional,

Tetapi tetap menjaga transparansi,

Mendukung industrialisasi,

Tetapi tetap memastikan kesejahteraan rakyat,

Menguatkan negara,

Tetapi tetap menjaga demokrasi dan hukum.

E). Penutup dan Kesimpulan.

Sejarah Mohammad Mossadegh menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kekayaan nasional sering menghadapi perlawanan dari kekuatan besar dunia.

Indonesia harus belajar dari sejarah tersebut agar tidak mudah dipengaruhi propaganda yang melemahkan rasa percaya diri bangsa sendiri.

Kemandirian energi, pangan, air bersih, dan industri nasional bukanlah konsep radikal. Itu adalah fondasi utama agar Indonesia menjadi bangsa yang kuat, berdaulat, mandiri dan dihormati dunia.

Rakyat Indonesia harus semakin cerdas membaca geopolitik global, memahami sejarah internasional, dan menilai kebijakan nasional berdasarkan kepentingan jangka panjang bangsa, bukan hanya berdasarkan propaganda, ketakutan, atau opini yang dibentuk pihak luar.

Ketika bangsa Indonesia memiliki seorang Presiden yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi seperti Prasiden Prabowo Subianto yang ingin menjadikan Indonesia KUAT, BERDAULAT, MANDIRI dan DI HORMATI DUNIA.

Bila Presiden-mu dimusuhi, dihujat, dibully dan ingin digulingkan oleh asing, aseng, pengusaha rakus dan konglomerat busuk yang dibantu oleh propaganda dari para globalists dan capitalists internasional seperti George Soros.

Disitulah anda sebagai anak bangsa Indonesia yang harus hati-hati, jangan naive dan dewasa dalam melihat kondisi politik dalam negeri dan geopolitik global.

Prime Minister of Iran, Mohammad Mussadegh digulingkan oleh CIA dan M-16 tahun 1953 karena kebijakan nasionalis, tidak mempan disogok, tidak mempan dibeli dan tidak mempan dirayu rondo Hollywood.

Presiden Prabowo Subianto memiliki karakteristik itu, kebijakannya sangat nasionalis, tidak mempan disogok oleh konglo busuk, tidak mempan dibeli dan tidak mempan dirayu oleh rondo ucul.

Disampaikan oleh Redaksi Media Vibrasi News.com ( irhamsyah )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *